Fungsi Koordinasi Tim Ekonomi Amburadul

Hendrawan Supratikno, Ekonom.
Jumat, 30 Juli 2010

JAKARTA (Suara Karya): Gejolak gila-gilaan harga barang dan jasa sekarang ini, terutama kebutuhan pokok pangan, merupakan gambaran betapa amburadulnya kinerja tim ekonomi di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Akibat lemahnya fungsi koordinasi, kerja sama antarmenteri praktis tidak berjalan sebagaimana mestinya. Masing-masing menteri terkesan “buang badan” dengan saling lempar tanggung jawab dan saling menyalahkan, sehingga harga-harga pun terus bergerak liar.

Demikian penilaian ekonom yang juga anggota Komisi VI DPR Hendrawan Supratikno di Jakarta, kemarin, menanggapi gejolak harga aneka barang dan jasa sekarang ini. Pendapat hampir senada juga diutarakan Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika dan Ketua Dewan Direktur Sabang-Marauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan dalam kesempatan terpisah.
Hendrawan menyebutkan, sumbu utama yang membuat harga-harga sekarang ini terus membubung adalah lemahnya fungsi koordinasi di tim ekonomi KIB II yang notabene menjadi tanggung jawab Menko Perekonomian. Di lain pihak, menterimenteri
ekonomi juga cenderung asyik melangkah sendiri. “Para menteri lebih banyak disibukkan dengan agenda partai atau acara-acara yang seremonial.

Bahkan mereka terkesan berebut menemani presiden dalam  setiap kunjungan kerja di dalam maupun ke luar negeri,” kata Hendrawan. Dengan kata lain, bagi dia, menteri-menteri ekonomi di KIB II tidak memiliki kepedulian terhadap isu atau masalah yang justru merupakan lingkup tugas masingmasing.

“Celakanya, kita tidak tahu persis apa saja yang dikerjakan Menko Perekonomian di tengah kemelut harga-harga ini,” ujarnya.
Dia mengakui, dalam menghadapi gejolak harga, menteri-menteri ekonomi menggelar rapat-rapat–termasuk rapat yang dipimpin langsung oleh Presiden SBY. Tapi, menurutnya, semua itu sama sekali tak memperlihatkan hasil di lapangan
karena memang tak ada langkah konkret dan strategis yang dilakukan pemerintah.

“Kebanyakan rapat yang dilakukan menteri-menteri ekonomi tidak pernah berkiblat kepada solusi. Rapat selalu hanya mengulang pembahasan atau langkah yang pernah dilakukan. Bisa kita lihat, yang bisa dilakukan Menko Perekonomian dengan Menteri Perdagangan terkait gejolak harga kebutuhan pokok pangan hanya memantau pasar tanpa disertai tindakan terobosan yang efektif mengatasi keadaan,” tutur Hendrawan.

Kenyataan itu, menurut dia, memperlihatkan bahwa kapasitas kelembagaan pemerintahan sekarang ini tidak bisa dan tidak mau memecahkan masalah riil yang dihadapi rakyat. “Bagaimana masalah bisa diselesaikan, menteri-menterinya saja
malah sibuk sendiri-sendiri,” ujar Hendrawan.

Dia mencontohkan, sudah hampir satu bulan belakangan ini harga komoditas pertanian, peternakan, dan barang kebutuhan pokok lain melambung sangat liar. Tapi, katanya, pemerintah dengan enteng berkilah bahwa masalah itu merupakan
dampak faktor cuaca, kekurangan pasokan, dan hambatan distribusi. “Padahal hambatan-hambatan itu sudah bertahun-tahun ada. Tapi memang tidak pernah bisa diselesaikan dan selalu sekadar dijadikan justifikasi pemerintah agar
masyarakat paham dan maklum. Jadi, pada dasarnya menteri-menteri ekonomi memang melakukan pembiaran atas masalah gejolak harga ini,” tutur Hendrawan.
Sementara itu, Ahmad Erani Yustika juga menyatakan, gejolak harga yang terus liar sekarang ini tak harus terjadi kalau saja fungsi koordinasi di tim ekonomi KIB II berjalan. Artinya, menurut dia, peran Menko Perekonomian memang tumpul.
Menurut Erani, tim ekonomi KIB II seperti tidak memiliki sense of crisis di tengah gejolak harga aneka barang dan jasa sekarang ini. Kepedulian mereka atas jeritan masyarakat akibat beban lonjakan harga-harga, katanya, nyaris tak terlihat. Yang
mereka pertontonkan justru tindakan yang tidak berpihak terhadap nasib rakyat kebanyakan sehingga harga-harga makin menggila.
Erani lantas menunjuk tindakan atau kebijakan pemerintah yang menyulut gejolak harga-harga ini semakin menjadi. Misalnya peningkatan biaya pengadaan energi, kenaikan tarif dasar listrik (TDL), kenaikan tarif jalan tol, juga tarif jasa-jasa lain. Di
sisi lain, infrastruktur yang notabene sejak lama dikeluhkan menjadi salah satu sumber yang mengondisikan harga barang dan jasa di dalam negeri, terutama bahan pangan, cenderung mahal seperti diabaikan.

Kalaupun tim ekonomi KIB II ini terkesan memberi perhatian terhadap masalah gejolak harga-harga, itu tak serta-merta berdampak mendinginkan keadaan. Apa boleh buat, menurut Erani, karena perhatian mereka itu cenderung sekadar basabasi
atau bersifat setengah hati.

“Mereka berkali-kali menyatakan bahwa pemerintah terus memantau keadaan. Padahal kondisi di lapangan tak cukup lagi hanya dipantau atau ditanggapi dengan menggelar operasi pasar yang bersifat sekadarnya, karena justru sudah sangat
menuntut tindakan konkret dan mendasar,” ujarnya.

Karena itu pula, Ernai memprediksi, laju inflasi tahun ini bisa mencapai 6 persen. Ini lebih tinggi dari asumsi target pemerintah sebesar 5,3 persen. Menurut Erani, inflasi itu meroket akibat tak terhindarkan kenaikan TDL serta
peningkatan permintaan selama Ramadhan, Hari Raya Lebaran, Natal 2010, dan
Tahun Baru 2011.
Menurut dia, pengaruh penyesuaian harga TDL, bahan pangan, dan tahun ajaran baru pendidikan mengakibatkan inflasi Juli 2010 ini akan mencapai angka 1,2 persen. “Bila inflasi Juli 2010 ini bisa mencapai angka di atas 1 persen, ini sudah luar
biasa,” kata Erani. Sementara itu terkait masalah peningkatan produksi pertanian, khususnya tanaman
pangan, Syahganda Nainggolan mengatakan, pemerintah seharusnya segera melakukan pembangunan serta pendalaman saluran irigasi di sentra pertanian di Indonesia.

Ini berkaitan dengan semakin tidak optimalnya hasil produksi para petani yang imbasnya berpengaruh terhadap kelangkaan komoditas pertanian di pasaran. Secara otomatis, ini akan mendorong kenaikan harga komoditas pertanian.
“Bagaimana petani bisa sejahtera kalau tingkat produksi di lahan yang digarapnya itu semakin menurun. Seharusnya pemerintah melalui Kementerian Pertanian segera membenahi sektor pertanian, seperti pembagian yang merata untuk pupuk
bersubsidi serta perbaikan saluran irigasi yang menjadi sumber pengairan lahan
pertanian,” katanya.
Seperti yang terjadi beberapa bulan belakangan ini, menurut Syahganda, harga komoditas pertanian, peternakan, serta barang kebutuhan pokok melambung tinggi. Namun, imbasnya pada peningkatan kesejahteraan petani hampir dipastikan tidak
signifikan. Bahkan yang terjadi, akibat kenaikan-kenaikan tersebut, petani malah semakin tidak memunyai daya beli untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Berdasarkan pantauan Suara Karya di tujuh lokasi pasar tradisional di Kota Bogor, harga kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) dan komoditas pertanian lainnya mengalami lonjakan berarti. Jenis komoditas yang mengalami kenaikan antara 1
hingga 2,4 persen, antara lain beras jenis Ir 64 ukuran medium. Harga rata-rata beras jenis Ir 64 ukuran medium semula dijual Rp 5.464 per liter, naik menjadi Rp 5.600 per liternya atau mengalami kenaikan 2,4 persen.

Kenaikan juga terjadi pada gula pasir dalam negeri. Harga rata-rata di tujuh lokasi pasar tradisional di Kota Bogor, gula pasir dalam negeri dijual dengan harga Rp 9.854 per kilogram (kg) naik menjadi Rp 10.000 per kg atau naik 1,4 persen.

Sedangkan harga telur ayam naik sebesar 2,8 persen semula dijual dengan harga Rp 15.071 per kg naik menjadi Rp Rp 15.500 per kg, serta harga daging ayam mengalami kenaikan sebesar Rp 500 dari semula Rp 27.500 naik menjadi Rp 28.000
per ekor.
Terkait lonjakan harga kebutuhan rumah tangga itu, seorang ibu rumah tangga, Nurlita Anggraeni (32) mengaku kehilangan kepercayaan dengan pasar tradisional pasca terjadinya kenaikan harga bahan pokok yang dinilainya cukup tajam itu.
“Hampir di setiap pasar tradisional harganya tak merata, kondisi ini mendorong hilangnya kepercayaan konsumen,” tuturnya. (Bayu/Tarwono)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Mz arifin.  On 13 September 2010 at 5:08 AM

    Tex tulisan agar jangan ditulis per kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: