Madu dan Racun Kekuasaan ….!

Pernah ada “banyolan politik” bahwa dalam kaitan nya dengan kekuasaan, biasa nya orang yang sudah “duduk cenderung lupa atau malas berdiri”. Orang yang sudah menjadi anggota DPR/D, maka diri nya akan berjuang keras untuk terpilih kembali sebagai anggota DPR/D untuk 5 tahun berikut nya. Orang yang sudah terpilih menjadi seorang Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, terkesan lebih senang menjadi seorang incumben ketimbang secara legowo menyerahkan jabatan kepada generasi pelanjut nya. Bahkan boleh jadi juga jika tidak ada pembatasan 2 periode masa jabatan, maka diri nya pun akan berjuang habis-habisan untuk menyandang posisi sebagai Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota sepanjang hayat di kandung badan. Banyolan seperti ini rupa nya menjadi semakin menarik untuk dicermati. Bukan saja kita perlu mengenali ada apa sesungguhnya di balik sebuah kekuasaan, namun kita pun menjadi pantas untuk mempersoalkan benarkah dalam sebuah kekuasaan itu terdapat “madu” yang sangat manis ?

Lord Acton pernah menyatakan bahwa “kekuasaan itu memiliki kecenderungan untuk korup”. Suka atau pun tidak, kita terhadap apa yang disampaikan Acton berpuluh-puluh tahun silam itu, tetapi fakta menjelaskan betapa banyak nya para pengendali kekuasaan yang harus berujung di hotel pordeo. Mulai jabatan Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota, bahkan dari kalangan pengusaha dan akademisi pun, ujung-ujung nya harus “indekost” di ruang jeraji besi. Yang lebih mengenaskan, ada juga para penegak hukum, baik aparat Kepolisian, Kejaksaan bahkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi sekali pun pun, akhir nya harus menjadi pesakitan di ruang Pengadilan. Inilah sisi lain dari kekuasaan. Selain kekuasaan itu dapat diibaratkan madu, maka tidak salah jika kekuasaan pun dapat berubah menjadi racun kehidupan yang sangat pahit.

Dalam konteks kekuasaan, baik dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, kita sulit memprediksi apakah kekuasaan yang digenggam nya itu akan berujung menjadi madu atau racun. Kekuasaan adalah amanah yang harus diwujudkan dalam kiprah seorang pemegang kekuasaan untuk mampu memberi keberkahan dan kemuliaan terhadap sesama warga bangsa. Kekuasaan bukanlah alat untuk memperkaya diri seseorang, keluarga atau golongan. Kekuasaan bukanlah untuk mengumbar nafsu seseorang dalam rangka mengikuti kata hati. Kekuasaan tidak juga diarahkan untuk “mematikan” rival-rival yang ikut bersaing dalam menggapai kekuasaan itu. Tapi kekuasaan mestilah dipersepsikan sebagai jalan untuk membangun kesejahteraan seluruh anak bangsa yang telah memilih nya sebagai penguasa.

Oleh karena itu, sungguh memilukan jika dalam sebuah bangsa, kita masih mendengar ada nya warga bangsa yang termarginalkan, terpinggirkan atau malah terkorbankan oleh kebijakan. Padahal, yang nama nya kebijakan adalah upaya yang dibangun atas dasar kebajikan dari orang yang berkuasa guna mewujudkan nasib dan kehidupan ke arah yang lebih berharga diri, berkarakter dan tentu saja harus lebih bermartabat.

Siapa sih diantara kita yang tidak ingin menjadi Presiden, Gubernur atau Bupati/Walikota ? Siapa sih yang tidak tergiur untuk menjadi seorang “wakil rakyat” sehingga selalu disambut sebagai “yang terhormat”. Lalu penghasilan yang mencapai angka puluhan juta rupiah per bulan nya. Fasilitas kehidupan yang dijamin oleh negara. Atau siapa kah diantara warga bangsa yang tidak berminat untuk merebut posisi Ketua Partai Politik yang dalam setiap Pemilihan Umum selalu memperoleh simpati dari rakyat ?

Apalagi jika dikenali bahwa untuk memperoleh “tiket” jabatan Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota itu harus melalui sebuah “kendaraan politik”. Mereka yang merasa memiliki peluang dan kesempatan, pasti akan berjuang keras untuk merebut nya. Bahkan kalau perlu uang milyaran rupiah pun disawerkan kepada pimpinan partai politik ditingkatan nya masing-masing agar posisi Ketua Umum Partai Politik dapat diraih nya. Terkecuali mereka yang memang peluang nya tidak ada, seperti para buruh tani, para kuli bangunan, para buruh pabrik, para gelandangan dan tuna wisma dan lain sejenis nya. Mereka ini pasti tidak akan pernah berpikir bagaimana merebut jabatan Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota, sekedar untuk “menyambung nyawa” keesokan hari nya saja sudah sangat kebingungan.

Begitulah sekelumit soal kekuasaan. Selama orang yang memegang kekuasaan adalah orang yang amanah, tablig, sidiq dan fathonah, maka diri nya tidak perlu ragu untuk berkiprah, tapi kalau saja seorang penguasa itu dzalim, munafik, takabur, dan narcis, maka bisa saja akan berakhir dengan sebuah penyesalan. Jadi, kekuasaan nya sendiri tidaklah salah, yang keliru adalah orang yang menjalankan kekuasaan itu sendiri. Dengan kata lain bisa juga dikatakan, sebuah kekuasaan akan berbuah madu atau racun, tergantung pada manusia nya juga. Nah, Kasus Bank Century yang kini semakin “terlupakan” itu apakah akan berujung menjadi madu atau kah racun bagi kekuasaan ? Jawaban nya bisa aja “emang gue pikirin” ?

Salam

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Maxgrosir  On 7 Mei 2014 at 11:49 AM

    jarang sekali menemukan hal itu jaman sekarang ada pemimpin yang tabligh amanah itu hanya ada 1000 banding 1 orang pak, ya semoga saja yang terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: