Hitungan Subsidi BBM Ala Kwik Kian Gie Dan Kritiknya

“Terkadang sebuah revolusi diawali oleh pemikiran-pemikiran gila yang diawali dari sebuah kebebasan berpikir. Ketika kebebasan berpikir itu telah ada, muncul beberapa opini-opini baru yang membangun. Oleh karena itu ketika pemikiran itu terus berkembang, menulis adalah salah satu cara mengungkapkan sebagai suatu memori. Agar tidak sekedar menjadi obrolan warung kopi.” (Akhmad Fikri Aulia, Jakarta)

Subsidi BBM Bukan Pengeluaran Uang. Uangnya Dilarikan Kemana?

Dengan melonjaknya harga minyak mentah di pasaran dunia sampai di atas US$ 100 per barrel, DPR dan Pemerintah menyepakati mengubah pos subsidi BBM dengan jumlah Rp. 153 trilyun. Artinya Pemerintah sudah mendapat persetujuan DPR mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 153 trilyun tersebut untuk dipakai sebagai subsidi dari kerugian Pertamina qq. Pemerintah. Jadi akan ada uang yang dikeluarkan?

Saya sudah sangat bosan mengemukakan pendapat saya bahwa kata “subsidi BBM” itu tidak sama dengan adanya uang tunai yang dikeluarkan. Maka kalau DPR memperbolehkan Pemerintah mengeluarkan uang sampai jumlah yang begitu besarnya, uangnya dilarikan ke mana?

Dengan asumsi-asumsi untuk mendapat pengertian yang jelas, atas dasar asumsi-asumsi, pengertian subsidi adalah sebagai berikut.

Harga minyak mentah US$ 100 per barrel.
Karena 1 barrel = 159 liter, maka harga minyak mentah
per liter US$ 100 : 159 = US$ 0,63. Kalau kita ambil
US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah menjadi Rp. 6.300 per liter.

Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium kita anggap dibutuhkan biaya sebesar US$ 10 per barrel atau Rp. 630 per liter. Kalau ini ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan Rp. 6.300 + Rp. 630 = Rp. 6.930. Dijualnya dengan harga Rp. 4.500. Maka rugi Rp. 2.430 per liternya. Jadi perlu subsidi.

Alur pikir ini benar. Yang tidak benar ialah bahwa minyak mentah yang ada di bawah perut bumi Indonesia yang miliknya bangsa Indonesia dianggap harus dibeli dengan harga di pasaran dunia yang US$ 100 per barrel.
Padahal tidak. Buat minyak mentah yang ada di dalam perut bumi Indonesia, Pemerintah dan Pertamina kan tidak perlu membelinya? Memang ada yang menjadi milik perusahaan minyak asing dalam rangka kontrak bagi hasil. Tetapi buat yang menjadi hak bangsa Indonesia, minyak mentah itu tidak perlu dibayar. Tidak perlu ada uang tunai yang harus dikeluarkan. Sebaliknya, Pemerintah kelebihan uang tunai.

Memang konsumsi lebih besar dari produksi sehingga kekurangannya harus diimpor dengan harga di pasar internasional yang mahal, yang dalam tulisan ini dianggap saja US$ 100 per barrel.

Data yang selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh. Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang harus dikeluarkan untuk subsidi atau tidak, saya membuat perhitungan seperti Tabel terlampir.

Nah kalau perhitungan ini benar, ke mana kelebihan yang Rp. 35 trilyun ini, dan ke mana uang yang masih akan dikeluarkan untuk apa yang dinamakan subsidi sebesar Rp. 153 trilyun itu?

Seperti terlihat dalam Tabel perhitungan, uangnya yang keluar tidak ada. Sebaliknya, yang ada kelebihan uang sebesar Rp. 35,31 trilyun.

PERHITUNGAN ARUS KELUAR MASUKNYA UANG TUNAI TENTANG BBM (Harga minyak mentah 100 dollar AS)

DATA DAN ASUMSI

Produksi : 1 juta barrel per hari

70 % dari produksi menjadi BBM hak bangsa Indonesia Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun
Biaya lifting, pengilangan dan pengangkutan US $ 10 per barrel
1 US $ = Rp. 10.000
Harga Minyak Mentah di pasar internasional Rp. US $ 100 per barrel
1 barrel = 159 liter
Dasar perhitungan : Bensin Premium dengan harga jual Rp. 4.500 per liter

PERHITUNGAN

Produksi dalam liter per tahun :
70 % x (1,000.000 x 159 ) x 365 = 40,624,500,000
Konsumsi dalam liter per tahun 60,000,000,000
Kekurangan yang harus diimpor dalam liter per tahun 19,375,500,000
Rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini :
(19,375,500, 000 : 159) x 100 x 10.000 = 121,900,000,000,000
Kelebihan uang dalam rupiah dari produksi dalam negeri :
40,624,500,000 x Rp. 3.870 = 157,216,815,000,000
Walaupun harus impor dengan harga US$ 100 per barrel Pemerintah masih kelebihan uang tunai sebesar 35,316,815,000, 000
Perhitungan kelebihan penerimaan uang untuk setiap liter bensin premium yang dijual, harga Bensin Premium per liter (dalam rupiah) 4,500. Biaya lifting, pengilangan dan transportasi US $ 10 per barrel atau per liter : (10 x 10.000) : 159 = Rp. 630 (dibulatkan)

Kelebihan uang per liter 3,870

Oleh Kwik Kian Gie

http://boxcapitalis.blogspot.com/2010/01/hitungan-subsidi-bbm-ala-kwik-kian-gie.html

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • syarifuddin simbolon  On 7 Juli 2010 at 5:09 PM

    Jika perkiraan Kwik itu benar, maka sudah selayaknya seluruh anak negeri ini melakukan tindakan kepada para pejabat yang telah menipu rakyat dengan dalih subsidi BBM

    Bila perlu rakyat meminta Mahkamah Internasional atau Badan PBB untuk melakukan audit, dan selanjutnya menghadapkan para pelaku penipuan terhadap rakyat itu diadili di Mahkamah Internasional

    Jika langkah menyeret para pejabat jahat itu rumit, maka sebaiknya rakyat meminta bantuan AS untuk menggulingkan pejabat-pejabat yang melakukan penipuan terhadap rakyat.

  • Anonim  On 7 Juli 2010 at 10:59 PM

    pokok pangkalnya memang istilah harga keekonomian, jdi setiap liter minyak yg diproduksi bukan dinilai dgn harga pokok produksinya tetapi dihargai dgn harga minyak dì singapur atau NY, yg berarti sdh termasuk margin laba para broker yg lebih besar dari harga pokok produksinya, pertanyaanya apakah pemerintah perlu mengambil laba yg sangat besar, kemudian seolah-olah seperti sinterklas memberikan subsidi…?

  • stevanie Pricilla  On 27 April 2011 at 11:46 AM

    jika perhitungan dan asumsi oleh Kwik Kian Gie itu benar,, maka sangat disesalkan perlakuan para pemerintah Indonesia,,

    namun, yg ingin saya tanyakan sekarnag ialah.. apa benar Indonesia punya perusahaan pengambil minyak milik negara? jika benar, mohon sebutkan nama-nama P.T tsb..

    terima kasih
    Tuhan berkati

  • Anonim  On 29 Juni 2011 at 8:26 PM

    Ayo Pemerintah, jawablah! Jika kalian memang benar orang-orang yg mampu bekerja, jujur, dan bertanggungjawab, maka pasti mudah saja kalian menjawab perhitungan Pak Kwik itu dg data-data valid yg sdh tersedia di komputer kalian. Jangan biarkan pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang seelementer itu (namun substantif) kalain anggap angin lalu yg tak perlu dijawab. Ingat, kalian mengurus negara, mengurus harta rakyat, bukan mengurus harta pribadi kalian!

  • suhari  On 20 Juli 2011 at 12:33 PM

    Pendapat Pak Kwik ini sangat keliru dan sangat mengecoh. Pak Kwik menganggap bahwa minyak mentah yang berada dalam bumi Indonesia ini tidak ada pemiliknya, seakan-akan siapapun boleh mengambilnya dengan gratis, seolah miliknya sendiri. Padahal minyak bumi tersebut milik seluruh rakyat Indonesia. Setiap pengambilan minyak bumi harus membayar kepada rakyat sebagai pemilik yang akan digunakan untuk memenuhi kesejahteraannya (pendidikan, kesehatan, pangan, transportasi dll), jika tidak membayar berarti rakyat tidak ikut menikmati kekayaan miliknya, hanya pengguna BBM saja yang diuntungkan. Pembayaran dikoordinir oleh negara, uangnya masuk APBN, digunakan untuk membiayai negara. Harga yang fair untuk setiap liter minyak mentah yang harus dibayar adalah sesuai dengan harga dunia yaitu Rp 6300. Ditambah biaya pengolahan dll, itulah harga jual BBM tanpa subsidi. Jika harga jual BBM kurang dari itu berarti terdapat subsidi. Subsidi diambil dari APBN juga yang sebenarnya milik rakyat. JADI SUBSIDI ITU ADA, BUKAN FIKTIF. Dalam prakteknya mungkin saja ada manipulasi besarnya nilai subsidi, itu persoalan lain lagi.

  • dian  On 25 Juli 2011 at 1:22 PM

    Pendapat bro SUHADI ini yang ngawur dan keliatannya gak mengerti isi artikel. Bro SUHADI mengatakan “Pak Kwik menganggap bahwa minyak mentah yang berada dalam bumi Indonesia ini tidak ada pemiliknya, seakan-akan siapapun boleh mengambilnya dengan gratis, seolah miliknya sendiri. Padahal minyak bumi tersebut milik seluruh rakyat Indonesia”

    lha memang Pak Kwik sendiri sedang membahas itu bro, ia menuntut itu, piye tho bro..?

  • dian  On 25 Juli 2011 at 1:29 PM

    *Maaf, maksud saya pendapat bro SUHARI bukan SUHADI

  • Ranto McManullang  On 9 November 2011 at 4:11 PM

    Turunkn SBY-Boediono Sekarang JUga. Merdeka!!!

  • Amin Chan Wedha  On 16 Januari 2012 at 11:03 PM

    SUHARI gak mudeng gak usah ikut ngomong… duduk manis aja. malah bikin makin ruwet aja….

  • badu  On 24 Februari 2012 at 9:45 PM

    Yg terjadi sebenarnya, pemerintah mengasumsikan bhw mereka menjual minyak kepada rakyat sesuai harga internasional, tetapi dikorting sedikit ,,, maka korting itulah yg dinamai subsidi, yg sebenarnya hanya sedikit memperkecil keuntungan – hmmm, pemerintah berdagang kepada rakyat sendiri.

  • noharli  On 6 Maret 2012 at 10:40 PM

    Semoga pak kwik diberikan kekuatan untuk selalu memberikan pemikiran yg baik untuk bangsa ini, walaupun nampaknya pemerintah dan DPR tidak mau memahami apa yang bapak sampaikan. Tapi yakinlah, pemikiran baik bapak akan diteruskan oleh mereka yang peduli akan bangsa ini. Semoga.

  • don_doga  On 6 Maret 2012 at 11:47 PM

    haduuhhh kalo benar hitung hitungan ini benar dibuat sama ekonom sekelas kwik kian gie terus terang saya miris dengan ekonom sekelas kwik kian gie berani berbicara tanpa data…
    yang perlu saya ralat adalah :
    1. Produksi minyak kita dibawah 1 juta barrel perhari atau tepatnya 935.000 BOPD
    2. Konsumsi minyak indonesia adalah 1.5 juta barrel perhari bukan 1 juta barrel seperti hitungan diatas..

    sehingga kalo saya boleh mengikuti hitung-hitungan ala kwik kian gie….

    PERHITUNGAN

    Produksi dalam liter per tahun :
    70 % x (935.000 x 159 ) x 365 = 38.000.000.000
    Konsumsi dalam liter per tahun 87.000.000.000
    Kekurangan yang harus diimpor dalam liter per tahun 49.000.000.000
    Rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini :
    (49.000.000.000 : 159) x 100 x 10.000 = 308,000,000,000,000
    Kelebihan uang dalam rupiah dari produksi dalam negeri :
    38.000.000.000 x Rp. 3.870 = 147.000.000.000.000
    JADI JELAS SEKALI DENGAN HITUNG HITUNGAN SEDERHANA INI AJA PEMERINTAH HARUS MENGELUARKAN UANG/DEFISIT SEBESAR : 308 T – 147 T = 161 Triliun

  • nathan  On 7 Maret 2012 at 4:24 PM

    Pemerintah oh pemerintah SBY,sampai kapan bapak2 yg (dianggap) terhormat selesai menghisap kering rakyat bangsa ini. Kurang cukup kah orang2 yg tewas tercekik ekonomi. Dulu,se jelek2nya pemerintah tidak ada yg menekan rakyatnya sedemikian rupa. Saya sangat menyesal memiliki kalian2 semua di pemerintahan.

  • aduhai  On 17 Maret 2012 at 12:49 PM

    Data yang selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh. Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang harus dikeluarkan untuk subsidi atau tidak, saya membuat perhitungan seperti Tabel terlampir.

    Sekelas Kwik Kian Gie masih tetap kesulitan memperoleh data yang sebenarnya?
    Aduhai Indonesia ku, sungguh molek tutur katamu, ketrbukaan informasi hanya sebatas solgan doang

  • Anonim  On 21 Maret 2012 at 11:17 PM

    Dari segi hitung2an Pak Kwik betul, bahkan sangat betul. Sebagai seorang yang pernah berdomisili di Riau Pak Kwik juga tentu tahu, bahwa disparitas harga BBM subsidi dengan harga pasar menyebabkan terjadinya perdagangan gelap di sepanjang perbatasan dengan negara-2 tetangga, Memang perdagangan itu jika dilihat secara perorangan, tidak besar, karena yang menjual minyak itu ke wilayah perbatasan laut adalah para rakyat pesisir yang cuma sekitar 5-10 jerigen, tpi apabila diakumulasikan, akan berjumlah jutaan liter/ hari BBM indonesia lari ke luar negeri. Kemudian ditambah lagi ulah beberapa pemilik industri yang juga membeli BBM haram tersebut, dengan mengharapkan keuntungan yg lebih besar. Nah kalo saya mencoba melihatnya dari sisi itu.

  • Kamaruddin  On 27 Maret 2012 at 1:42 PM

    Jika perhituangan bapak kwik benar kami sebagai rakyat indonesia mohon Pemerintah untuk mempertibangkan kembali rencana kebijakan menaikkan harga BBM. dan kami mohon adanya usaha untuk tetap menjaga iklim investasi agar peluang dan kesempatan kerja untuk rakyat indonesia tetap terbuka……..

  • ijah  On 10 Mei 2013 at 12:03 AM

    Semua hanya permainan

  • Anonim  On 18 Juni 2013 at 11:32 PM

    rakyat cuma ngerti harga terjangkau, hitung-hitungan anda2 yg ngerti,mu salah mu bener yg jelas orang2 pinter dinegri ini dibayar oleh orang2 bodoh yg mereka sebut rakyat, cm moral yg bisa menyadari mereka bahwa mereka itu diutus duduk di kursi enak oleh rakyat bukan untuk menyengsarakan..dan cm pinter ngakalin orang bodoh..klo mau ngaca jgn sm negara orang, ngaca itu pada diri sendiri, bangsa sendiri, negri sendiri,ngurus jengkol ama cabe aja blum becus , mau ngurus minyak,haaaaaaahhhhh…

  • Anonim  On 20 Juni 2013 at 7:28 PM

    ahhhhhhhhh tak merakyat rakyat menjerit pak presiden tgl 2thn naik2 aj bbm bsk q gak jdi presiden hahahahahahhahaa

  • flip flops for women  On 28 Juni 2013 at 9:53 AM

    Indian women, of every class, dress with a simple, impressive elegance.

  • kredit tanpa agunan  On 14 Juli 2013 at 10:32 PM

    perhitungan yang logis menurut saya, tapi mengapa tidak digubris sama sekali ya😦

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: