Kenaikan TDL Sama Artinya dengan Membunuh Rakyat Pelan-pelan

umat, 02/07/2010 | 09:58 WIB
Kenaikan TDL Sama Artinya dengan Membunuh Rakyat Pelan-pelan
OLEH: ARIEF TURATNO

KENAIKAN Tarif Dasar Listrik (TDL) per 1 Juli 2010 rata-rata sekitar 10 persen dituding banyak kalangan sama artinya dengan membunuh rakyat Indonesia pelan-pelan. Mengapa? Sebab dengan kenaikan TDL ini hampir pasti akan diikuti kenaikan berbagai macam bahan atau barang kebutuhan pokok. Misalnya, kenaikan bahan makanan (mentah) mengalami kenaikan berkisar 0,11 persen, makanan dan minuman jadi, serta rokok dan sejenisnya mengalami kenaikan berkisar 0,06 persen, sandang mengalami kenaikan berkisar 0,08 persen, dan yang paling kecil mengalami kenaikan adalah transportasi berkisar 0,01 persen. Secara kumulatif semua barang atau bahan kebutuhan masyarakat mengalami kenaikan sekitar 0,29 persen.

Dan yang lebih mengejutkan serta memprihatinkan adalah karena kenaikan TDL dilakukan menjelang datangnya bulan Ramadhan (puasa) dan Lebaran Idhul Fitri. Jelas sekali kenaikan TDL ini tanpa didasari oleh pertimbangan-pertimbangan nalar yang sehat. Mengapa? Sebab tanpa kenaikan TDL-pun hampir pasti barang-barang kebutuhan pokok akan merambat naik. Apalagi, sekarang dengan adanya kenaikan TDL, pasti akan dijadikan alasan kuat bagi para pedagang untuk berlomba-lomba menaikan harga. Padahal kita semua tahu, gaji PNS meskipun mengalami kenaikan, tidak sebanding dengan angka kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.

Sementara pihak swasta dengan semakin sulitnya mendapatkan bahan baku, atau mahalnya bahan baku akibat kenaikan TDL pasti akan terus merugi. Daripada menanggung kerugian terus menerus, maka hampir dipastikan mereka pun akan segera berhenti berproduksi. Pertanyaannya adalah akan ada berapa juta lagi pengangguran di Indonesia? Berdasarkan asumsi sumber-sumber di SPSI, kenaikan tarif TDL ini hampir pasti akan diikuti PHK (pemutusan hubungan kerja) sejumlah perusahaan swasta. Dan mereka prediksi akan terjadi PHK sampai 1,17 lebih karyawan perusahaan swasta. Coba bayangkan, jika asumsi tersebut menjadi kenyataan, akan berapa banyak lagi rakyat Indonesia yang bakal kelaparan?

Dari sinilah kita dan semua rakyat Indonesia pasti mempertanyakan tentang janji kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para wakil rakyat yang sekarang duduk di Senayan. SBY saat berkampanye dulu terus menggelorakan semangat perubahan. Tentunya semangat perubahan dari keadaan yang buruk menjadi lebih baik, dari miskin menjadi kaya, atau dari kekurangan menjadi berkecukupan. Namun dalam prakteknya atau kenyataannya, ternyata janji perubahan itu tidak pernah dipenuhi. Kalau pun terjadi perubahan, bukannya rakyat bertambah makmur dan sentausa yang terjadi kemudian adalah rakyat semakin miskin. Contohnya, ya, dengan kenaikan TDL yang bertepatan dengan datangnya bulan puasa. Ini sama artinya sudah jatuh ketimpa tangga untuk rakyat Indonesia, semuanya tanpa terkecuali.

Akan halnya kalangan DPR yang sekarang kita percaya untuk mewakili kepentingan rakyat. Nyatanya, mereka lebih sibuk menghitung uang atau fee untuk menyetujui kenaikan TDL ini. Sebab sangat tidak mungkin, kenaikan TDL yang sangat membebani rakyat dapat berjalan mulus tanpa ada sesuatu yang diberikan kepada kalangan dewan. Asumsi semacam ini bukan hal baru bagi kita. Sebab setiap persoalan, setiap masalah, selalu diukur dengan tebal tipisnya duit. Apalagi dalam soal kenaikan TDL yang bermuara pada duit. Maka hampir dapat dipastikan telah terjadi semacam transaksi terselubung di Senayan. Benarkah? Kalau asumsi tersebut tidak benar. Maka sekaranglah dewan berteriak, agar kenaikan TDL jangan diberlakukan sekarang. Tetapi, tunggu sampai keadaan perekonomian kita cukup stabil.

Selebihnya, kalau benar yang menjadi penyebab kenaikan TDL ini adalah karena ulah para pengusaha tambang batubara yang menaikan harga seenaknya sendiri. Lagi-lagi kita pertanyakan kepada Presiden dan anggota DPR, mengapa kalian diam? TDL naik salah satu penyebabnya adalah harga batubara yang gila-gilaan, padahal batubara milik negara tetapi dijual oleh pengusaha mahal banget ke PLN? Masyarakat yang dirugikan! Bahkan, TDL bisa diturunkan apabila gas dan batubara tidak diekspor ke luar negeri. Kalau memang benar kenaikan harga batubara akan mengakibatkan efek karambol seperti kejadian saat ini, maka seharusnya Presiden dan DPR melakukan operasi pasar batubara, check mengapa mereka harus menaikan harga, serta tanyakan seberapa besar sebenarnya kebutuhan batu-bara untuk pembangkit listrik kita itu? Hal ini penting, karena siapa tahu, ini semua hanya sebuah permainan politik, yang tujuannya hanya untuk mendeskreditkan pihak tertentu, dan mengambil keuntungan dari situasi ini. Jadi Presiden dan DPR jangan hanya tidur melulu, ayo bangun, rakyat membutuhkan Anda! (*)

Oleh: Arief Turatno-Jakarta Press.Com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: