Riwayat Ilmuwan Sufi Betawi dari Salemba, KEMBALIKAN UANG / HARTA YANG BUKAN “HAKMU”.

Oleh :Tim Metafisika Iluni UI KK
Riwayat ini merupakan “kisah” perjalanan Ilmuwan Sufi lulusan Salemba. Ilmuwan karena memang “dia” (sebut saja FD) kuliah di kampus UI Salemba, meneruskan Phd di Birmingham University (Inggeris) dan mengajarkan peradaban & ekonomi. Berhubung tempat kuliah di Inggeris dia secara naluri terlarut ikut bergaul dengan paranormal sufi…yang ternyata banyak dari kalangan intelektual.
Tidak heran masyarakat Inggeris umumnya, apalagi paranormal terkenal “berani” bersosial dengan dunia mistis, hantu atau roh-roh yang konon..di London paling banyak di dunia. Seolah ilmu yang ditekuni (peradaban & ekonomi) memandu dia ingin berkenalan dengan legenda “Robin Hood”, seorang Sherrif yang sangat terkenal untuk merampok para penghianat kerajaan dan selanjutnya dibagikan kpd rakyat miskin. Bahkan Robin Hood telah menyelematkan Raja Henry dari rencana Pengkhianatan. Lengkap sudah FD memiliki ilmu dan kemampuan batin yang bersifat sufi…ibadah dan pendekatan diri kpd Sang Khaliq.

Berbekal ilmu dan perjalanan bathin sufi, FD kembali ke Indonesia sekitar 1970 an. Kontras memang, ilmu peradaban-ekonomi dengan dunia sufi, tetapi demikian nikmatnya FD meresapinya. Masa awal yang FD ingin ketahui adalah berkenalan dengan “Si Pitung” terkenal Perampok asal Betawi, karena merasa sedarah. Si Pitung sudah melegenda seperti Robin Hood. Dalam perjalanan spiritual, FD diperkenalkan oleh Si Pitung dengan Matsani (tentu sudah almarhum), yang bekerja menjual Air Bersih di daerah Kota dan sekitarnya. FD mengisahkan perjalanan batin spiritualnya sbb:

Sekitar th 1910 an, Matsani punya Juragan Rentenir untuk meminjam uang, Djohan Tengkil (sdh almarhum). Djohan sangat kaya-raya, dengan harta puluhan ha di bilangan Kebayoran dan Kby.Lama, Kerbau & Kambing ratusan dan emas batangan ratusan kilogram. Jumlah pengawal (bodyguard) puluhan orang dan rata-rata berilmu kebal. Para pengawal inilah yang jadi tukang “jagal” (sekarang executor) atas tanah dari pinjaman yang tidak bisa kebayar. Juragan rentenir ini yang sulit dirampok oleh Si Pitung. Menginjak harta lahan mencapai 100 ha, usia Djohan Tengkil menginjak 65 tahun. Rasa was-was menyelimuti jiwa Djohan, umur yang sudah dirasakan akan berakhir. Bukan kematian yang Djohan khawatir / takuti, tetapi “Hisap Kubur” oleh Malaikat Mungkar-Nangkir atas segala perbuatan, harta dan ibadah di dunia. Dasar Djohan Tengkil sosok yang bahil, dia selalu ada akal, bagaimana “menyiasati” Malaikan Mungkar dan Malaikan Nangkir. Caranya?. Djohan merayu Matsani, “Matsani, tolonglah bersedia temeni gua” dikubur 1 hari-1 malam tepat bersebelahan gua, entar gua bebaskan utang eloe dan gua kasih emas 1 kilogram”. Matsani bergetar mendengar imbalan emas 1 kilo. Namun karena Matsani yang taat ibadah balik bertanya: “Kenapa Juragan minta ditemani?” Alasan Djohan ringkas: “Malaikat Mungkar-Nangkir tidak akan meng-hisab orang mati, kalau ada orang yang masih ada di kuburan, bego loe ”. Matsani sulit menyetujui, kecuali persetujuan Bininya “Baik Juragan, moga Bini saya menyetujui ya”.

Matsani, seorang sosok Betawi umumnya, sangat sederhana, makan minum keluarga dari keliling Kota hasil jualan air. Kerja hari itu untuk hidup hari itu, pasa pasan. Kalau tidak kerja / sakit…ya tidak bisa makan. Artinya, dia harus “berhutang” lagi pada Juragan. Hitung-hitung, hutang Matsani sudah mencapai Rp.10 ribu th 1910 an atau sekitar Rp.8 jutaan. Dengan kerja non stop 10 tahun, bayar tiap hari Matsani bisa lunasi hutangnya. Bininya, Oneng tentu sangat bergairah dan menyetujui tawaran Juragan Djohan. “Ayo Bang Mat, ane sangat setuju, kan waktu dikubur nanti dikasih saluran pernafasan..dan hanya 24 jam aja .Abang kan hidup lagi”. Beban hutang dan imbalan bebas hutang dan emas 1 kilo, sudah disepakati Matsani dan Djohan Tengkil.

Hari berjalan, dan tepat ke 99 hari sewaktu Matsani keliling menjajakan air, Oneng mencari menyusul Matsani, “Bang Mat, Juragan tadi siang jam 10 meninggal, ayo Bang cepet pulang nanti jam 3 dikubur. Kita akan kaya Bang” Bini Matsani kelihatan sangat sumringah. Kontras dengan Matsani, lemes dan loyo, karena bakal ikut dikubur..sendiri di alam kubur, meski 24 jam.

Suara Azan dan dilanjutkan Iqomat di kuburan mulai dikumandangkan. Matsani ikut dikubur, dengan diberi saluran udara yang mencukupi. Jantung Matsani berdetak sangat kuat…5 x lebih cepat dari biasanya. Selanjutnya, tujuh langkah peziarah terakhir meninggalkan Kuburan Juragan Djohan…Bagai Kilat yang sangat terang dan keras, Malaikat Mungkar & Nangkir mendatangi Kuburan Matsani !!!. “Ampun Malaikat, saya belum mati” teriak Matsani. Namun kedua Malaikat tetap meneruskan Hisab pada Matsani, dengan pembuka : Manrobuka (Apa agamamu)…Manabiuka (Siapa Nabimu)..dst bisa dijawab lancer Matsani. Kedua Malaikat meneruskan Hisab Kubur tentang apa amal ibadah (pekerjaan) Matsani, Malaikat M-N:“Apa kerjamu ?” , “Saya mencari air, menjual ke Kota”. Malaikat M-N : “Dari mana tali, ember dan jerigenmu?” Matsani jawab “Ada dari hutag, jual cincin Bini”.Malaikat M-N: “Untuk apa hasil uang jualan air?” …Mulut Matsani menjawab “untuk makan keluarga”, tetapi kedua kaki & tangan Matsani ikut bicara “untuk main judi koprok kadang-kadang”….JEGLERRRR. Siksa kedua Malaikat. Hisab Kubur Malaikat Mungkar Nangkir yang sangat-sangat melelahkan kepada Matsani…dari mana asal uang untuk beli ember, jerigen, untuk apa hasilnya, dan ratusan pertanyaan asal uang -untuk apa…seluruhnya tidak BISA DIBOHONGI dengan mulut. Kedua tangan, mata, kaki dan Indera Tubuh ikut bicara….menjadikan Matsani sangat kelelahan, sangat kesakitan dengan Siksa atas harta yang bukan “Haknya”, hasilnya tidak dipergunakan benar. Dan puncaknya lelah, muka-tubuh memar dengan berbagai siksa. Selesai Hisab kedua Malaikat Mungkar-Nangkir, kuburan Matsani mulai dibongkar kembali oleh keluarganya. Matsani dipapah oleh bininya dan Si Pitung pulang kerumah, bagai Maling yang habis digebuki orang sekampung.

Tujuh hari tujuh malam Matsani rajin Ibadah, namun dengan emas 1 kilogram ditangan Matsani bukannya senang, atau bahagia apalagi foya-foya. Matsani sebagian hari merenung lesu, bimbang. Dipanggil Bininya “Oneng, tolong panggilkan Isteri Juragan Djohan”. Si Oneng bertanya “Ada apa lagi Abang ?, kan Juragan sudah berikan 1 kilogram emas dan bebaskan hutang. Kita bisa senang kan Bang”. Matsani tetap bilang lirih “Tololong panggilkan !”.

Isteri Juragan Djohan, Nyai Inah dating kerumah Matsani. “Ada apa Mat panggil gua ?” Tanya Nyai Inah. Matsani dengan tangan gemetar menyerahkan kembali emas 1 kilogram pada Nyai Inah dengan disaksikan Si Pitung sembari berkata:“Gua yang hanya mencari rejeki dari air bersih saja..Hisabnya Audzubillah Minta Ampun, terasa setahun, padahal itu dari hasil keringatku dan hakku. Apalagi emas ini 1 kilogram ini dari hasil rentenir, bukan hakku…Hisab & siksa kubur bisa setahun kagak kelar kelar. Seluruh Anggota Badan, Indera kagak bisa bohong. Siksanya Ampuuuunnn. Maaf ya Nyai, aku mau jualan air dulu”

—–********——

Riwayat diatas disampaikan FD pada saat menjelang akhir hidupnya…sebagai perjalanan Spriritual. Dan tetap saja FD juga hidup dalam kesederhanaan sebagai Dosen UI…tinggal di bilangan Depok, meski gelar PHd sudah diraihnya. FD berpesan: Jadilah seperti Si Pitung…Rampas Kembali harta-harta kita yang dirampok, dikorup…tetapi jangan kau nikmati. Kembalikan pada saudara kita yang Berhak..Itu sejatinya Ksatria./ Pemberani.yang sangat disukai oleh Tuhan YME. Hisab & Siksa Kubur…InsyAllah minim.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: