Jihad Kekayaan Alam Kita

Berkali-kali muncul pertanyaan, mengapa kita tidak mengelola kekayaan alam negeri kita secara mandiri? Mengapa bangsa kita masih miskin dan tertinggal dengan negara-negara lain, padahal dari sisi kekayaan alam dan sumber daya manusia tidak kalah dengan bangsa lain?

Rasanya sudah jengah dengan jargon-jargon yang kerap dikoarkan bahwa kekayaan alam Indonesia melimpah ruah. Sampai-sampai diibaratkan, batu saja, jika ditanam, akan bisa tumbuh subur. Lalu bagaimana menjawabnya? Mungkin kalau sekadar menjawab tidaklah sulit. Di negeri kita sudah banyak orang pintar dalam segala bidang. Teori-teori canggih yang mereka kuasai akan dengan cepat disingkap.

Kalau begitu, apanya yang tidak beres? Apakah ini bertaut dengan mentalitas dan ketakberdayaan kita dalam menandingi arus besar raksasa korporausme internasional dan kita pilih kalau ada yang mudah, mengapa dipersulit?. Daripada kita capai capai mengelola sendiri kekayaan alam kita, lebih baik kita jual ke investor asing dan kita tinggal terima beres. Celakanya lagi, kita hanya menjadi konsumen, bukan produsen yang inovatif.

NU sebagai bagian dari bangsa ini tentu terpanggil untuk ikut mengukuhkan kemandirian bangsa dalam soal pengelolaan kekayaan alam. NU melihat salah satu tantangan besar yang dihadapi bangsa kita adalah globalisasi neoliberal. Bila kita tidak sigap dan waspada, neoliberal yang di-support oleh IMF, Bank Dunia, WTO, dan perusahaan-perusahaan transnasional ini akan memangsa kemandirian bangsa kita, termasuk dalam mengelola segenap potensi ekonomi dan SDA kita.

Tantangan lain adalah meruyaknya krisis lingkungan hidup yang mengutip Sonny Keraf akarnya adalah krisis moral dan religius. NU tidak tinggal diam dan pernah mengadakan halaqoh Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan Hidup Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (GNKL PBNU) pada 2007 di Jakarta yang menyerukan pada warga NU dan seluruh elemen masyarakat waj ib mem -perjuangkan pelestarian lingkunganhidup (jihad biiyah).

Paradoks Nasionalisme

Tiba-tiba kita tersentak, dan sontak kita pun balik mempertanyakan ulang, .ip.ik.ih kita sudah merdeka sepenuhnya. Secara formal, kita memang sudah merdeka dan terbebas dari penjajahan. Tapi, secara ekonomi-politik apa betul? Bukannya kita masih terkangkangi oleh bayang-bayang pengaruh asing. Ini barangkali sebuah angry statement. Tetapi, kegerahan ini tidaklah lahir dari ruang hampa.

Sebagai bangsa yang pernah dijajah dalam waktu yang lama, nasionalisme kita belumlah dikatakan sempurna. Nasionalisme baru pada level permukaan, belum pada substansinya Kita akan bertepuk tangan dan membusungkan dada ketika tim Merah Putih berlaga di event olah raga internasional. Tetapi, tidak ada gemanya pembelaan manakala aset-aset negara dicaplok oleh kekuatan asing.

Korporatokrasl

Hubungan antarbangsa secara alami akan mengarah pada dominasi dan didominasi. Dominasi asing di Indonesia sudah berlangsung sejak dulu hingga detik ini. Sikap Indonesia yang mudah didominasi asing mengutip Bambang Pri-.iin.i dalam bukunya Indonesia Bukan Bangsa Korup disebabkan ketertinggalan dalam kemampuan mengembangkan diri akibat lamanya masa kolonialisasi sehingga menghasilkan sikap yang rentan dan mudah dikecoh. Sebab lain adalah tekanan bangsa asing sehingga menguntungkan mereka dan merugikan kita.

Kini, kita saksikan gurita kekuatan korporatokrasi. Kekuatan korpora-M.11.im ini didukung oleh korporasi besar, kekuatan politik, lingkaran militer, keuangan internasional, media massa,dan intelektual pro kemapanan. Dan bangsa kita telah menjadi subordinat korporatokrasi tersebut. Dalam analisis Noam Chomsky, Indonesia mengalami kehilangan kemandirian justru di bawah rezim state capitalism.

Kita patut tersinggung dengan keberhasilan Jepang, Singapura, dan Kor-sel yang punya perusahaan migas yang beroperasi di berbagai negara walaupun mereka tidak memiliki kekayaan alam migas. Industri nasional kita juga tiarap. Padahal tahun 1970-an, negara kita dikenal sebagai Macan Asia. Belum lagi sukses China dan India (Cindia) yang kini diakui sebagai pemain kunci dalam era globalisasi. Menyitir Joseph Stiglitz, Cina dan India merupakan negara yang mampu me-merdayai globalisasi.

Integritas Kita

Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya domestik yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkanindustri. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk besar. Jika Indonesia terus bergantung pada industri impor, ml.ik akan berhasil mewujudkan kemandirian industri nasional.

Ada kecenderungan negara ini untuk selalu menempuh jalan melakukan program-program instan yang hasilnya dapat langsung terlihat dan dibanggakan sebagai prestasi pengelola negara ketimbang menjalankan program yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Sebuah jalan pintas selalu terlihat jauh lebih menarik ketimbang harus bersusah payah membangun fondasi yang kuat.

Tidak terbangunnya industri yang kuat dari hulu ke hilir membuat tingkat kebergantungan pada industri dalam negeri terhadap impor masih sangat tinggi. Pengabaian industri hulu ke hilir yang terintegrasi telah membuat rapuhnya stuktur industri dalam negeri. Secara empiris, Indonesia boleh dikatakan mengalami kegagalan dalam membangun industrinya. Para pengusaha gagal melakukan pendalaman industri dan lebih tertarik melakukan ekspansi usaha atau konglomerasi.

Padahal, bukan hanya potensi SDA yang kita punya, tapi juga SDM. Bermacam kompetisi dan olimpiade berbagai cabang ilmu pengetahuan bertaraf international mampu dimenangi oleh anak bangsa ini. Ini bukti bahwa bangsa kita memiliki potensi SDM yang unggul.

Keberadaan BUMN seperti Antam, Pertamina, Elnusa, dan lainnya juga membuktikan bahwa kita sebenarnya mampu mengelola kekayaan alam sendiri. Malaysia saja yang SDM dan SDA-nya di bawah kita, sekarang lebih maju karena mereka mandiri.

Tak ayal, inilah saatnya kita berjihad untuk kembali pembentukan mental bangsa dengan konsep kemandirian ekonomi, kemandirian politik dan kepribadian nasional. Kita perlu rebut integritas kita yang menjadi warisan leluhur kita. Kita harus yakin bahwa ada banyak sifat baik dan potensi bangsa kita yang membuat kita mandiri dan bukan bangsa yang lemah.

[Penulis Ketua Umum PBNU]

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: